Munculnya Kusta Jenis Baru Bikin Pemerintah Cemas

Permasalahan baru kusta di Indonesia mencemaskan. Tidak hanya timbul di daerah yang belum berstatus eliminasi, permasalahan baru penyakit itu ditemukan di wilayah berstatus eliminasi. Pencarian permasalahan dengan cara aktif wajib diperbuat supaya cepat ditemukan serta segera diobati.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pencegahan serta Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh saat temu media dalam peringatan Hari Kusta Sedunia, Jumat (27/1), di Jakarta.

Secara nasional, Indonesia mencapai status eliminasi kusta pada tahun 2000. Prevalensi kusta tahun 2015 mencapai 0,78 per 10.000 penduduk. Status eliminasi tercapai apabila prevalensi permasalahan tidak lebih dari 1 per 10.000 penduduk. Pada tahun yang sama, jumlah pengidap kusta 20.160 orang.

Tahun 2013, setidak sedikit 20 provinsi telah eliminasi kusta. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 menargetkan, tahun 2019 semua provinsi mencapai status eliminasi. Saat ini, Aceh serta Jawa Timur dievaluasi apakah sukses mencapai status eliminasi alias tidak. Adapun Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, serta Gorontalo ditargetkan berstatus eliminasi.

Di tengah upaya mencapai status eliminasi, jumlah permasalahan kusta baru justru mengkhawatirkan. Tahun 2015, angka penemuan permasalahan baru mencapai 6,73 per 100.000 penduduk.

Permasalahan baru di Indonesia tercatat 17.202 permasalahan. “Permasalahan baru timbul di daerah yang belum eliminasi serta daerah yang telah eliminasi,” kata Subuh.

Permasalahan kusta baru amat mungkin timbul di daerah yang belum berstatus eliminasi. Apalagi, kondisi tiap kabupaten/kota di provinsi yang telah eliminasi berbeda. Di daerah berstatus eliminasi pun ada potensi permasalahan baru. Status eliminasi tidak berarti nol permasalahan, namun permasalahan sedikit serta terkontrol, tidak lebih dari 1 permasalahan per 10.000 penduduk.

Kusta merupakan penyakit menular dampak bakteri Mycobacterium leprae. Kusta bukan penyakit dampak keturunan ataupun makanan. Kuman kusta menyerang kulit serta saraf tepi. Apabila telat diobati, pasien dapat cacat permanen. Walau demikian, penyakit itu amat susah menular.

Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit serta Kelamin Emmy S Sjamsoe berkata, faktor paling mungkin dicapai dalam kusta ialah eliminasi, bukan eradikasi alias menghapus permasalahannya. Masa inkubasi bakteri kusta ialah 40 hari hingga 40 tahun. (ADH)

Source: review wardah