Sejarah Darun Nadwah (Dar al-Nadwah)

Sejarah Darun Nadwah (Dar al-Nadwah)

Darul Arqam – Menurut As-suhaili Darun Nadwah adalah Rumah tempat mereka ( orang Quroys ) Berkumpul mengadakan musyawarah . Kata tersebut di ambil dari kata : An-nada, An -Nadi & Al muntada, yang artinya tempat duduk suatu kaum di mana mereka bercengkrama di sekelilingnya.

Darul Aqram “ Ialah nama rumah yang dinisbatkan kepada Al-Aqram, yaitu sahabat Nabi Muhammad Saw. Ia menjadi pusat gerakan dakwah islam secara sembunyi-sembunyi pada permulaan kenabian, dimana orang-orang muslim yang baru masuk islam berkumpul dan melaksanakan shallat di dalam nya secara sembunyi-sembunyi juga. Setelah sejulmlahnya mencapai 40 orang dengan masuk nya Umar Ibnu Khattab RA ke dalam Islam maka dakwah islam kemudian dilakukan secara terang-terangan.

Pada tahun 171 H/787 M, Al-Khaizuran, yaitu bekas budak Al-Mahdi Al-Abbasi, yang membangun masjid di tempat Darul Arqam yang jarak nya sekitar 36 Meter di sebelah Timur Shafa, yaitu di luar tempat Sa’I, serta menjadi perhatian para khalifah muslimin. Kemudian, pada tahun 1375 H/1955 M masjid tersebut dihancurkan dalam rangka proyek perluasan Masjidil Haram, Dan untuk memperingatinya, maka pintu pertama di tempat sa’I disamping Shafa dinamakan dengan “Pintu Darul Arqam” (Bab Dar al-Arqam).

Dalam aplikatifnya Darun Nadwa di gunakan sebagai markas pemerintahan dan adsministrasi  di makkah , mereka tidak mengadakan akad pernikahan, tidak bermusyawarah dalam urusan apapun & tidak mengingatkan panji perang , kecuali dari rumah itu.

orang – orang yang masuk kedalam darun nadwah haruslah yang sudah berusia 40 tahun. dahulu apabila ada seorang gadis telah haid dia dimasukan kedalam darun nadwah  kemudian di robek bajunya oleh petugas darun nadwah & kemudian  mengenakan hijab. Qushay lah dulu yang melakukan sendiri  kemudian menjadi tradisi – tradisi orang setelahnya , mereka melakukan tradisi ini sebagaui bagian dari  agama yang di ta’ati.

Darun Nadwah (Dar al-Nadwah)

Sejarah Darun Nadwah (Dar al-Nadwah)
Sejarah Darun Nadwah (Dar al-Nadwah)

Dibangun oleh Qusai ibn Kilab sekitar 200 tahun sebelum hijrah. Dinamakan demikian karena disanalah tempat berkumpul dan bermusyawarahnya kaum Quraisy. Di rumah inilah mereka berkumpul dan membuat rencana untuk menghalangi gerakan dakwah Islam, yaitu ketika sebagian sahabat keluar menuju Madinah, dan kekhawatiran mereka bahwa Nabi Saw. pun akan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, mereka bersepakat untuk membunuh Nabi Muhammad Saw, tetapi atas kehendak Allah Swt, Nabi Muhammad Saw dapat keluar rumah dan berhijrah ke Madinah demi mengembangkan agama dan risalah-Nya. Umar ibn Khattab, semasa menjabat sebagai Khalifah kedua, pernah mengunjungi dan tinggal di Darun Nadwah, demikian pula para khalifah sesudah nya. Sementara al-Mu’tadlid dari Dinasti Abbasiah memasukkan nya kedalam bagian Masjidil Haram dalam perluasan nya pada tahun 284 H/897 M, dengan luas 37 X 36 m = 1332 m2. Letak persisnya, kira-kira di dekat tempat thawaf di sebelah Utara, dan untuk memperingatinya pintu disana dinamakan dengan “Pintu Darun Nadwah” (Bab Dar al-Nadwah). Ikuti Program Umroh Murah Plus Eropa.

Darun Nadwah pun di kususkan untuk para petinggi atau pemimpin , pemuka dan intelektual sedangkan rakyat selalu mengadakan perkumpulan di sekitar ka’bah yang di kenal dengan nama  Nadil Qoum . Para pemimpin itulah sebagai perwakilan suku-suku atau anak suku. ada juga perkumpulan khusus anak – anak suku & marga yang membicarakan  tentang urusan internal anak suku & marga tersebut.

Orang – Orang yang masuk darun nadwah di sebut dengan al – mala’ sekali lagi mereka itulah para tokoh pemerintahan di makkah yang mengatur urusan mereka , politik , ekonomi dan sosial tanpa tunduk kepada Undang – undang tertulis & undang – undang sistematis yang menjelaskan isi berbagai unsur nya hal ini di isyaratkan dalam Al-Qur’an

Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”. ( QS  43:22)

yang perlu di catat  adalah  bahwa keputusan mereka dalam memecahkan masalah yang muncul di tengah -tengah mereka  serta berbagai mekanisme yang mereka berlakukan tidak dapat mengiikat kecuali telah di sepakati oleh semua.

Pintu Darun Nadwah atau Dar Al-Nadwah merupakan pintu yang berada dekat di tempat tawaf dan memiliki cerita sejarah yang hampir sama dengan Dar al-Arqam (Darul Arqam) yang berada di tempat Sa’I dekat dengan Shafa. Darun Nadwah pada mulanya merupakan sebuah rumah yang dibangun pada masa awal perkembangan Islam yang didirikan sekitar 200 tahun yang lalu oleh Qusay ibn Kilab. Yang membedakan Darul Arqam dan Darun Nadwah adalah Darul Arqam merupakan tempat berkumpulnya Nabi Muhammad SAW beserta dengan para pengikutnya yang telah masuk Islam secara sembunyi-sembunyi, sedangkan Darun Nadwah adalah tempat berkumpulnya orang-orang Quraisy dalam melakukan rapat.

Tujuan utama dari perkumpulan dan permusyawarahan kaum Quraisy tidak lain adalah untuk menghalangi berlangsungnya dakwah Islam dan membunuh Nabi Muhammad SAW. Segala cara dilakukan oleh kaum Quraisy agar bisa memenuhi keinginannya, sehingga pada suatu hari dilakukan rapat tertutup yang dihadiri oleh kepala-kepala dari kota Mekah. Semua yang hadir adalah tamu undangan secara langsung, karena tidak diperbolehkan satu orang pun masuk jika tidak ada undangan secara resmi. Beberapa kepala kabilah tidak diundang pada rapat tersebut dengan alasan karena yang bersangkutan tidak akan bisa diajak bermusyawarah untuk kepentingan yang satu ini. Yaitu suku Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Rencana-rencana yang dibuat oleh kaum Quraisy adalah untuk mengahalangi para sahabat dan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam dilakukan ketika sahabat keluar dari rumah dan diikuti oleh Nabi Muhammad SAW. Karena jika Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah ke Madinah (Yatsrib) maka akan menjadi bumerang bagi kaum Quraisy. Kaum Quraisy melakukan perdagangan di Syam sepanjang jalur perdagangan di kota Yatsrib, hal ini akan berdampak negative jika pusat dakwah Islamiyah telah berpindah ke Yatsrib dan terjadi perseteruan antara kaum Quraisy dan penduduk Yatsrib. Namun rencana pembunuhan yang akan dilakukan oleh kaum Quraisy tidak membuahkan hasil. Atas kehendak Allah SWT, Rasulullah SAW bisa keluar dari rumah dan melakukan hijrah ke Madinah.
Rumah ini tidak hanya digunakan untuk memusyawarahkan cara menghentikan dakwah Islam tetapi juga untuk memusyawarahkan kepentingan-kepentingan kaum Quraisy lainnya. Beberapa para sahabat nabi yang memimpin kota Mekah pernah mendiami Darun Nadwah seperti Umar bin Khatab ketika menjabat sebagai khalifah kedua yang diteruskan oleh khalifah-khalifah setelahnya. Namun pada tahun 284 H/897 M, bangunan tersebut diruntuhkan pada masa al-Mu’tadlid dari Dinasti Abbsiyah untuk kepentingan perluasan Masjidil Haram.

Awalnya letak bangunan tersebut sangat dekat dengan tempat thawaf, itulah mengapa pintu di dekat tempat thawaf dinamakan dengan Darun Nadwah. Tujuaannya adalah untuk memperingati bangunan Darun Nadwah yang dulu berdiri di atasnya.

masjid tersebut di pugar dalam rangka proyek perluasan Masjidil Haram. Untuk mengenangnya, pintu pertama di tempat sa’iy di samping Shofa dinamakan Bab Dar al-Arqam, yang berarti pintu Rumah Al-Arqam.